Titiek Puspa dan Indonesia Damai, Sejahtera


“…..

Hasrat menyumbangkan tenaga

Demi seni dan negara

Namun aku manusia biasa

Tak luput dari kekhilafan

Hanya pintaku duhai kawan

Fitnah jangan sebagai balasan

Pedih bila kurasakan

Hormati lah sesama kawan

Bukan kah kau ingin dihormat

Bila itu telah kau sadarkan

Bahagia tentram kita berkawan

(Berkawan, Titiek Puspa, album “Si Hitam”, Irama, 1964)

* * *

            Oleh takdir keragamannya, Indonesia memiliki kelebihan, namun seiring dengan itu juga kerentanan. Hidup rukun disertai semangat persatuan haruslah selalu diingatkan, dan oleh pencipta lagu, Titiek Puspa yang berpulang Kamis (10/4/2025) lalu telah menunaikan tugasnya.

            Mendiang Titiek Puspa dalam hidup dan karirnya tak lepas dari badai, tetapi ia hadapi semua dengan tabah, tegar, dan tetap dengan visi. Pesan lagu “Berkawan” kiranya tetap aktual pada hari-hari ini, tidak semata untuk “haters” Titiek Puspa di masa lalu, tetapi juga untuk cara kita bergaul, antarteman, antaranak bangsa. Dengan “trust” kita percaya, anak bangsa punya “Hasrat untuk menyumbangkan tenaga, demi (seni dan) negara.” Atas dasar ini lah kerukunan dan saling menghormati harus jadi pedoman. “Bila itu telah kau sadarkan, bahagia tentram kita berkawan” (sebagai sesama anak bangsa).

            Keberpihakan

            Jika seruan persatuan dan kerukunan lebih terasa sebagai slogan, kita dapat melihat Titiek Puspa dari sisi yang lain, yakni dari keberpihakannya pada anak bangsa yang masih tertinggal dalam kesejahteraan, dan dari waktu ke waktu sejauh ini belum kunjung membaik nilai tukarnya, dalam hal ini adalah nelayan dan petani.

            Ketika menulis biografi Sang Maestra, Ibu musik negeri ini, penulis menyimak sekitar 200 (dari mungkin 400 lebih) lagu ciptaannya. Memang, tema romantik, cinta-asmara tersebar luas di dalam khasanah gubahannya. Tetapi dari album (piringan hitam) “Si Hitam”, ada dua lagu yang tetap aktual untuk kita simak dan renungkan, yakni “Bersampan” dan “Bila Panen Tiba”.

            Pada “Bersampan” kita membaca lirik yang menyemangati nelayan :

Hahyo-hayo nelayan, bawa pukat dan jarring

            Hayo-hayo nelayan, sampan didayung..

            Jangan takut gelombang dan badai

            Kita cucu pelaut yang lihai

            Hayo lekas tebarkan lah jaring

            Walau kulit hitam mengering…

            Pada “Bila Panen Tiba” terdengar :

            “Burung-burung nyanyi tanda hari pagi

Bangun-bangun petani sawah menanti

Betapa gembira karna panen tiba

Kita pergi bersama seluruh kawan

Lebih aku bahagia karena jumpa si dia

Sambil menggenggam padi memadu janji

Padi di punggung kasih di sisiku

Kini pulang berdua, panen bahagia

Lirik sederhana namun memancarkan keberpihakan yang kuat, dan penuh dengan dorongan untuk terus menekuni bidang yang ditekuni. Dalam praksis kebijakan yang ada sejauh ini, yang ditandai dengan terus berlanjutnya impor komoditas pangan selain tidak memberi insentif pada petani, hal itu juga melemahkan ketahanan pangan. Kita tahu, tanpa kedaulatan pangan, sendi vital nasional pun rapuh, apalagi jika mendadak muncul kebijakan asing seperti Tarif Trump.

Masih selaras dengan kerentanan, yang kini dirasakan pada level Pemerintah maupun individu yang luas adalah tentang pengelolaan keuangan. Titiek sebagai komponis seperti ‘winarah’ (mengetahui sebelum sesuatu terjadi),

“Bing benk bank, yuk kita ke bank

Bang bing bung, yuk kita nabung

Tang ting tung, hei, jangan dihitung

Tahu-tahu kita nanti dapat untung

Titiek mengajarkan anak-anak untuk menabung  supaya hidup kita beruntung. “Mau keliling dunia ada uangnya, juga untuk segala macam biaya. (2007)

Memang ide menabung memberi potensi bagi orang untuk memiliki ketahanan finansial, meski jika ingin lebih maju lagi, menabung perlu dikaitkan dengan pengelolaan keuangan yang lebih luas. Itu sebabnya buku “Rich Dad, Poor Dad” (karya Robert T Kiyosaki dan Sharon L Lechter, 1997) dan “Think and Grow Rich” (Napoleon Hill, 2006) termasuk dalam buku-buku yang laris sepanjang waktu, karena ia menyadarkan banyak orang tentang pentingnya mengatur keuangan, dan juga menjadi kaya. Ini hal yang luput dalam sistem pendidikan yang lebih banyak mendorong murid hanya menjadi pintar, dan berpendidikan tinggi, namun acap kali kecele karena hidup ternyata tidak seperti yang mereka idam-idamkan, sampai bahkan pensiun dengan santunan ala kadarnya.

Ditambah dengan strategi pembangunan yang keliru/salah arah, tidak heran masyarakat Indonesia, bahkan yang sudah termasuk dalam kategori kelas menengah pun, dengan mudah tergerus oleh ombak dunia yang episentrumnya nun jauh di sana sekalipun.

Isu Kontemporer

Sejak decade 1970-an, isu lingkungan mulai tumbuh bergulir, dan kesadaran dunia pun semakin besar, ketika mantan Wapres Amerika Serikat Al Gore menerbitkan karyanya, “An Inconvenient Truth” (2006) yang secara spesifik mengangkat topik pemanasan global. Fenomena yang mengancam planet Bumi dewasa ini semakin mengkhawatirkan, ditandai dengan terjadinya tudung es kutub yang mencair, meningkatkan tinggi permukaan samudera dan berpotensi menenggelamkan negara-negara kepulauan, seperti Maladewa, dan kota pesisir seperti Jakarta.

Kepedulian terhadap isu lingkungan ini oleh Titiek Puspa diungkapkan dalam lagu “Sungaiku” (1964). Sungai menurut Titiek tidak saja diharapkan memberi air bening yang menyejukkan untuk mandi, tetapi juga “untuk menyiram sawah dan menyuburkan padi”. Kini, banyak banjir terjadi karena banyak sungai tidak terawatt baik, bahkan sering dipandang sebagai bak sampah nirbatas. Dengan bahasa sederhana Titiek Puspa sudah menggaungkan semangat cinta lingkungan pada era 1960-an. Alangkah visionernya Sang Legenda.

Indonesia Damai Sejahtera

Tulisan ini penulis buka dengan lagu “Berkawan” yang bersemangat mendorong hidup bersama saling menghormati, demi tercapainya peri kehidupan kebangsaan yang guyub harmonis. Penulis ingin menutup tulisan ini dengan melantunkan kidung Titiek Puspa tentang seorang gadis dusun bernama Minah.

“Inginkah kawan tahu siapa daku

Minah gadis dari dusun di gunung

Jauh daku berjalan menuruninya

Hanya ingin menjenguk indahnya kota

Amboi indah dan megah kotamu kawan

Rasa daku mimpi di dalam surga

Jejaka dan gadisnya tampan dan cantik

Gedung tugu dan mobil, oh amboi-amboi

Tapi maaf kawan aku tak tinggal lama

Kekasih hatiku rindu menanti

Tunggu saja kiriman hasil sawahku

Daku orang dusun pandai bertani

Hanya pesanku kawan, jaga negerimu

Sampai berjumpa nanti, salam manisku

            Alam dusun di gunung yang sepi – seperti terbaca dalam lagu “Minah Gadis Dusun” atau “Kuntum di Lereng Gunung” memang kontras dengan pemakaman seniwati legendaris. Di TPU Tanah Kusir, masyarakat berjejal mengikuti prosesi pemakaman, Jumat (11/4/2025).

            Titiek Puspa kini telah beristirahat abadi, namun pesan-pesan yang dikandung dalam lagu-lagu yang ia ciptakan tidak saja terus aktual, namun juga meninggalkan pesan pekerjaan rumah yang mendesak. Minah Si Gadis Dusun mengingatkan akan kesenjangan besar antara desa dan kota, ya fisiknya, ya alam kehidupannya, yang kini ditandai dengan kesenjangan digital.

            Lebih jauh dari lirik lagu-lagu ciptaan mendiang Titiek Puspa di atas kita juga mendapat pesan untuk “menjaga negeri”, tentunya bukan hanya fisiknya, tetapi niscaya juga ruh dan jiwanya. Sungguh pesan dari seorang gadis dusun yang sederhana namun bermakna dalam.

            Terima kasih Mbak/Eyang Titiek Puspa. Mengenang dirimu dengan lagu “Kasih di Antara Remaja” (ciptaan Hardo) yang mengantar dirimu ke blantika seni suara nasional memberi rasa nyaman. Namun tentu tidak hanya itu, karena melalui lagu-lagu lain ciptaanmu, memancarlah pesan kuat tentang cinta Tanah Air, dengan segala keindahan, kebanggaan, dan seiring dengan itu, juga kesusahannya.

* * *


Leave a comment