Sosok Riana Heath


Konserto Biola Beethoven yang Memukau

“Saya merasa sangat diberkati dapat memainkan biola. Hal ini memberi saya rasa memiliki tujuan dan rasa memiliki di dunia ini – yaitu untuk menyatukan orang-orang dan berbagi kegembiraan melalui musik.”

* * *

            Tahun telah berganti, tetapi ada satu kenangan yang masih terus membayang. Ini adalah tentang seorang pemain biola, pebiola, atau violis, atau violinis yang bertalenta besar. Itu sebabnya ia sulit dilupakan. Ia bernama Riana Heath.

            Riana tampil bersama Orkestra Jakarta Sinfonietta di bawah pimpinan Konduktor Maestro Iswargia R Sudarno, 9 November 2024 lalu di Balai Usmar Ismail, Jakarta, memainkan Konserto Biola karya Ludwig van Beethoven (1770-1827) dalam D Mayor Opus 61.

            Orkestra pimpinan Lendi – panggilan akrab Iswargia – selain Konserto Beethoven juga memainkan Overture (musik pembuka opera) Don Giovanni ciptaan WA Mozart K 527 dan  Simfoni Nomor 4 Franz Schubert dalam C minor, D 417.

            Meski karya Mozart dan Schubert tak kalah menggugah, tapi tak ayal lagi perhatian tercurah pada Konserto Beethoven. Dalam khasanah musik, ada tiga Konserto Biola yang amat dikagumi pecinta musik orkestra dengan solo biola, yakni Konserto Biola karya Peter Tchaikovsky  dalam D Mayor Opus 35 dan satu lagi ciptaan Felix Mendelssohn dalam E minor Opus 64, selain Konserto Beethoven. Di luar itu, kalau harus menyebut dua lagi,maka ada Konserto Biola karya Johannes Brahms dan Max Bruch.

            Tentang Konserto Beethoven, kita banyak melihat pemain biola kelas dunia yang memainkannya. Untuk perempuan tentu ada nama masyhur seperti Anne-Sophie Mutter dan Hilary Hahn. Ada kerinduan setelah sekian lama tak mendengar Konserto ini dimainkan. Mungkin Iskandar Wijaya menjadi violis yang terakhir memainkan Konserto ini lima tahun silam bersama Shanghai Philharmonic di Aula Simfonia Jakarta.

            November lalu di Jakarta, Lendi dapat mewujudkan impiannya untuk menampilkan Konserto ini, yang sudah sejak hampir dua tahun digagas. Riana lah yang lebih dulu mengusulkan untuk menampilkan Konserto Beethoven, namun lalu muncul pandemi Covid, sehingga rencana pun tertunda, tidak saja menunggu Riana selesai dengan studi masternya tahun 2023, tetapi juga menunggu ia menikah. Riana masih acap ke Yogya untuk mengunjungi keluarga ibunya.

            Meski hingga sekarang masih memegang kewarganegaraan Amerika, karena ia terlahir dari ibu Indonesia dan ayah Amerika, 1,5 tahun lalu Riana menikah dengan pria Indonesia – Bramantoko – dan memilih tinggal di Indonesia.

            Pilihan itu boleh jadi merupakan lompatan besar dalam kehidupan Riana, mengingat ia semenjak kecil banyak tinggal di Eropa. Belajar musik di Eropa, dengan guru-guru ternama. Setelah debut solo di Musikverein, Wina, tahun 2016, buah kemenangannya dalam meraih Grand Prize Virtuoso International Music Competition, Riana lalu mendapat tawaran tampil di seluruh Eropa, Amerika Utara, dan Asia Tenggara.

            Dengan semua perjalanan hidup dan karir yang luar biasa itu, Riana tetap rendah hati, dalam banyak hal mencerminkan sikap orang Jawa. Lendi dan Jakarta Sinfonietta pun nyaman bekerjasama dengan Riana, yang untuk menampilkan Konserto Beethoven membutuhkan tiga kali latihan. “Latihan dengan Riana lancar-lancar saja,” tutur Lendi awal pekan ini. Riana puin mengakui, ia nyaman tampil bersama Orkestra Lendi karena selama ini ia hanya berlatih tanpa orkestra, hingga ia semangat untuk main dengan orkestra Lendi.            Riana (Rabu, 29/1/2025, saat kurang sehat) menuturkan, bahwa ia tidak menggubah cadenza sendiri, tetapi memainkan cadenza gubahan Fritz Kreisler. Cadenza adalah momen dalam konserto di mana solois bermain sendiri sementara orkestra diam. Di sini solois tampil “memamerkan” seluruh kecanggihan permainan biolanya.

            Dalam menikmati sebuah konserto, ketika cadenza datang, ini lah saat yang ditunggu. Namun selepas itu, penonton juga menikmati keharmonisan Konserto yang ditampilkan bersama oleh solis bersama orkestra. Dalam hal ini Riana dan Jakarta Sinfonietta tampil bagus, menghadirkan pesona karya Beethoven. Ini juga kali pertama Riana memainkan Konserto ini bersama orkestra.

            Riana menuturkan, bagian/gerakan yang paling ia sukai dari Konserto ini adalah yang kedua (Largheto). Ini karena “solo biola dengan halus dan cantik menyatu dengan orkestra, yang memberi bagian ini atmosfer damai, akrab, dan surgawi.”

            Dalam khasanah musik, Beethoven diketahui hanya mencipta satu buah Konserto Biola, namun dalam karya yang lahir tahun 1806 ini terkandung semua kemungkinan teknik permainan biola. Namun Beethoven tidak melulu menampilkan kehebatan solis, tetapi – seperti tertulis dalam programa konser – juga melahirkan kembali genre ini. Solis menampilkan kedahsyatan permainan di atas musik yang digubah dengan penuh kedalaman dan inovasi.

            Ketika ditanya mana di antara kelima konserto masyhur yang ia sukai, Riana mengatakan dirinya punya hubungan khusus dengan masing-masing dari lima konserto di atas, tetapi ia merasa Konserto Beethoven yang paling ingin ia mainkan. Sekilas awal, Konserto ini tidak terkesan amat (menuntut) virtuositas dibandingkan konserto lainnya, tetapi ia menyukai proses mengeksplorasi berbagai nuansa dan kehalusan (subtleties) yang ada pada konserto ini.

            “Saya sungguh senang bermain dengan Orkestra ini (Jakarta Sinfonietta), karena apa yang diinginkan Beethoven, yaitu dialog dan saling interaksi antara biola solo dan orkestra terjadi,” tutur Riana. Karena ada banyak sisi yang harus Riana pelajari  dan dalami, Riana perlu lima bulan untuk menghadirkan Konserto fenomenal ini.

            Dalam riwayat musik ada pemain biola muda usia bernama Joseph Joachim (12 tahun) yang mempelajari partitur Konserto Beethoven ini, menghapalnya, dan menggubah cadenzanya sendiri sebagai persiapan. Kerja kerasnya terbayar, karena Joachim sukses menampilkan karya Beethoven yang dinilai sudah gagal dimainkan selama 20 tahun.

            Riana merupakan kelanjutan dari tradisi panjang memainkan Konserto yang indah, liris dan melodius, namun penuh tantangan untuk memainkannya. Kita bangga, karena bukan hanya Anne-Sophie Mutter dan Hilary Hahn, atau juga Itzhak Perlman dan Jascha Heifetz, Henryk Szeryng, atau Clara Jumi-Kang, yang mahir menampilkan Konserto ini, tetapi di Tanah Air juga ada Riana Heath dan Iskandar Wijaya yang tak kalah hebat.

            “Sebagai seorang musikus, saya mencoba yang terbaik untuk memberikan pengalaman musik yang mengangkat dan memperkaya hati dan jiwa manusia. Musik adalah bahasa ajaib yang menghubungkan orang-orang dari seluruh dunia. Meskipun saya fasih dalam lima bahasa, saya menganggap musik sebagai alat  komunikasi favorit saya, ujarnya seperti dikutip dalam leaflet programa “Made in Vienna”. (Ninok Leksono)

Profil Riana Heath

Lahir, Amerika Serikat, 1998

Pertama belajar biola pada usia 6 tahun di Montreal, Kanada

Pada usia 13 tahun  pindah ke Eropa, masuk divisi pra-kuliah di Mozarteum, Salzburg.

Gelar sarjana diraih dari Universitas Mozarrteum.

Sebagai peraih beasiswa Erasmus+, 2019, Riana bisa belajar di Konservatori Paris.

Gelar Master of Music diraih Riana dari Yale School of Music.

Riana dibimbing oleh pemain dan profesor ternama, antara lain Maxim Vengerov, dan bermain di bawah konduktor ternama Leonard Slatkin.

Kini, ia memilih tinggal di Yogyakarta, memimpin Studio Biola; dan Kepala Jurusan Biola di Sekolah Musik Canzona di Jakarta.

———-

* * *


Leave a comment